Jumat, 14 Oktober 2016

Kewajiban Suami Terhadap Istri



 

Kewajiban Suami Terhadap Istri

Suami Wajib Menjaga Istrinya

Kewajiban paling besar dari seorang suami terhadap istrinya adalah menjaga istrinya agar selamat dari api neraka. Berikut ini ayat Al Quran terkait dan beberapa penjelasan dari hadis yang terkait.
  1. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    ‘Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan ahli keluargamu dari api Neraka.” (At Tahrim : 6)
  2. Allah Taala berfirman yang bermaksud:
    Perintahkanlah keluargamu agar melakukan sholat.” (Thaha:132)
Berikut ini beberapa hadits yang menyatakan kewajiban suami menjaga istrinya:
  1. Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda: ‘Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang imam yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam mengurusi ahli keluarganya. Ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang isteri adalah pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab alas keluarganya. Seorang hamba adalah pemimpin dalam mengurus harta tuannya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Seorang laki-laki itu adalah pemimpin dalam mengurusi harta ayahnya, ia bertanggung jawab atas peliharaannya. Jadi setiap kamu sekalian adalah pemimpin dan setiap kamu harus bertanggung jawab alas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih )
  2. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Takutlah kepada Allah dalam memimpin isteri-istrimu , karena sesungguhnya mereka adalah amanah yang berada disampingmu, barangsiapa tidak memerintahkan sholat kepada isterinya dan tidak mengajarkan agama kepadanya, maka ia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Diceritakan dan Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud: “Tidak ada seseorang yang menjumpai Allah swt dengan membawa dosa yang lebih besar daripada seorang suami yang tidak sanggup mendidik keluarganya.”
  4. Rasulullah S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kali perkara yang dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya (yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami, ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram, dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian dibawa ke neraka. (Al Hadits).
Berikut ini atsar sahabat mengenai penjagaan suami kepada istri:
  1. Ibnu Abbas berkata:
    Berilah pengetahuan agama kepada mereka dan berilah pelajaran budi pekerti yang bagus kepada mereka.
Dari uraian ayat dan hadis di atas nampak bahwa seorang suami yang gagal mendidik istri dan anak-anaknya akan mendapat masalah besar di akhirat kelak.

Kewajiban Suami Secara Umum

Berikut ini beberapa nas dari Al Quran dan Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.
  1. Allah Taala berfirman, yang bermaksud:
    “Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya.” (An Nisa 19)
  2. Dan Allah berfirman lagi:
    ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya.” (Al Baqarah : 228)
Berikut ini beberapa nas dari Hadis mengenai kewajiban suami secara umum kepada istrinya.
  1. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda pada waktu haji wida’ (perpisahan) setelah baginda memuji Allah dan menyanjung-Nya serta menasehati para hadirin yang maksudnya sebagai berikut:
    ‘Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan tawanan yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sendirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri-isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka.
    Ingatlah! Sesungguhnya kamu mempunyai kewajiban terhadap isteri-isterimu dan sesungguhnya isteri-isterimu itu mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap dirimu. Kemudian kewajiban isteri-isteri terhadap dirimu ialah mereka tidak boleh mengijinkan masuk ke rumahmu orang yang kamu benci. Ingatlah! Kewajiban terhadap mereka ialah bahwa kamu melayani mereka dengan baik dalam soal pakaian dan makanan mereka.

    (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)
  2. Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud:
    “Kewajiban seorang suami terhadap isterinya ialah suami harus memberi makan kepadanya jika ia makan dan memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian dan tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh memperolokkan dia dan juga tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam tempat tidur (ketika isteri membangkang).” (Riwayat Abu Daud)
  3. Nabi SAW bersabda yang bermaksud:
    “Siapa saja seorang laki-laki yang menikahi perempuan dengan mas kawin sedikit atau banyak sedangkan dalam hatinya ia berniat untuk tidak memberikan hak perempuan tersebut (mas kawinnya) kepadanya. maka ia telah menipunya, kemudian jika ia meninggal dunia, sedang ia belum memberi hak perempuan tadi kepadanya maka ia akan menjumpai Allah pada hari Kiamat nanti dalam keadaan berzina.”
  4. Nabi SAW bersabda yang bermaksud
    “Sesungguhnya yang termasuk golongan mukmin yang paling sempurna imannya ialah mereka yang baik budi pekertinya dan mereka yang lebih halus dalam mempergauli keluarganya (isteri anak-anak dan kaum kerabatnya). “
  5. Nabi SAW bersabda yang bermaksud :
    “Orang-orang yang terbaik dari kamu sekalian ialah mereka yang lebih baik dari kamu dalam mempergauli keluarganya dan saya adalah orang yang terbaik dari kamu sekalian dalam mempergauli keluargaku.” (Riwayat lbnu Asakir)
  6. Diceritakan dari Nabi SAW bahwa baginda bersabda yang bermaksud:
    “Barang siapa yang sabar atas budi pekerti isterinya yang buruk, maka Allah memberinya pahala sama dengan pahala yang diberikan kepada Nabi Ayub a.s karena sabar atas cobaan-Nya. Dan seorang isteri yang sabar atas budi pekerti suaminya yang buruk akan diberi oleh Allah pahala sama dengan pahala Asiyah isteri Firaun
    Catatan: cobaan ke atas Nabi Ayub ada empat hal: habis harta bendanya, meninggal dunia semua anaknya, hancur badannya, dijauhi oleh manusia kecuali isterinya benama Rahmah.
  7. Rasulullah S.A.W mengingatkan agar para suami memberi nasihat-nasihat pada istrinya:
    ROHIMALLAHU ROJULAN QOOLA YAA AHLAAHU SHOLAA TAKUM SHIYAA MAKUM DZAKAA TAKUM MISKIINAKUM YATIIMAKUM JIIROONAKUM LA’ALLAKUM MA’AHUM FIL JANNATI.
    Artinya: “Mudah-mudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan isterinya, ‘Hai istriku, jagalah shalatmu, puasamu, zakatmu, kasihanilah orang-orang miskin di antaramu, para tetanggamu, mudah-mudahan Allah mengumpulkan kamu bersama mereka di surga”
Berikut ini rangkuman nasihat ulama:
  • Al Habib Abdullah Al Haddad berkata:
    “Seorang laki-laki yang sempurna adalah dia yang mempermudah dalam kewajiban-kewajiban kepadanya dan tidak mempermudah dalam kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Dan seorang laki-laki yang kurang ialah dia yang bersifat sebaliknya.”
    Maksud dan penjelasan ini ialah seorang suami yang bersikap sudi memaafkan jika isterinya tidak menghias dirinya dan tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi ia bersikap tegas jika isterinya tidak melakukan sholat atau puasa dan lain-lain, itulah suami yang sempurna. Dan seorang suami yang bersikap keras jika isterinya tidak menghias dirinya atau tidak melayaninya dengan sempurna dan lain-lain tetapi bersikap acuh tak acuh (dingin) jika isteri meninggalkan kewajiban-kewajiban kepada Allah seperti sholat, puasa dan lain-lain, dia seorang suami yang kurang.
  • Dianjurkan bagi seorang suami memperhatikan isterinya (dan mengingatkannya dengan nada yang lembut/halus) dan menafkahinya sesuai kemampuannya dan berlaku tabah (jika disakiti oleh isterinya) dan bersikap halus kepadanya dan mengarahkannya ke jalan yang baik dan mengajarnya hukum-hukum agama yang perlu diketahui olehnya seperti bersuci, haid dan ibadah-ibadah yang wajib atau yang sunat.

Nasihat Sayyidina Umar bin Khattab

Berikut ini suatu kisah mengenai seseorang yang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya.
Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar r.a. di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomel kepada Umar r.a., sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam: ”Kalau keadaan amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya dengan diriku“.
Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya : “Ada keperluan penting?“. Ia menjawab : ”Amirul Mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak mengadukan perihal istriku lantaran sering memarahiku. Tetapi begitu aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hati aku berkata: kalau keadaan amirul muikminin saja diperlakukan istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku.”
Umar berkata kepadanya: “Saudara, sesungguhnya aku rela menanggung perlakuan seperti itu dari istriku karena adanya beberapa hal yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku. Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi“.
Kata orang itu : “Amirul mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”. Jawab Umar “Ya, terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja“.

KESIMPULAN TANGGUNG JAWAB SUAMI

  1. Menjadi pemimpin anak isteri di dalam rumah tangga.
  2. Mengajarkan ilmu fardhu ‘ain (kewajiban pribadi) kepada anak isteri yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf.
    Ilmu tauhid diajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah.
    Ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan kehendak agama.
    Ilmu tasawuf diajarkan supaya mereka ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya daripada dirusakkan oleh rasa riya’ (pamer), bangga, menunjuk-nunjuk orang lain dan lain-lain. Ringkasan kewajiban pribadi seorang muslim dapat dibaca di artikel Cahaya Akhir Zaman: Kewajiban Pribadi Utama Seorang Muslim.
  3. Memberi makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
    Ada ulama berkata:
    Sekali memberi pakaian anak isteri yang menyukakan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun.
  4. Menghindari perbuatan zalim kepada anak isteri yaitu dengan cara:
    • Memberikan pendidikan agama yang sempurna. Jika ilmu agama tidak dari anak/istri ada yang tidak lengkap, maka hal ini termasuk zalim.
    • Memberikan nafkah lahir dan batin secukupnya.
    • Memberi nasihat serta menegur dan memberi panduan/ petunjuk jika melakukan maksiat atau kesalahan.
    • Apabila memukul jangan sampai melukai (melampaui batas).
  5. Memberi nasihat jika isteri gemar bergunjing/bergosip, mengomel serta melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah agama.
  6. Melayani isteri dengan sebaik-baik pergaulan.
  7. Berbicara dengan isteri dengan lemah-lembut.
  8. Memaafkan keterlanjurannya tetapi sangat memperhatikan kesesuaian tingkah lakunya dengan syariat.
  9. Kurangkan perdebatan dengan istri.
  10. Memelihara harga diri / kehormatan istri.

Selasa, 13 Oktober 2015

FADHILAH DAN KEBERKAHAN SURAT AL- WAQI'AH




Surat Al Waqi'ah (سورة الواقعة) adalah salah satu surat yang penuh dengan fadhilah dan keberkahan. Surah Al-Waqi'ah adalah surah yang ke-56 dalam Al-Quran, terletak pada juz ke 27 dan terdiri dari 96 ayat. Surat yang diturunkan setelah Surah Taahaa ini dinamakan dengan Al-Waaqi'ah (Hari Kiamat), diambil dari perkataan Al-Waaqi'ah yang terdapat pada ayat pertama. Surat ini banyak menceritakan tentang perihal hari kiamat dan bagaimana nanti pembagian umat di hari tersebut. Akan tetapi surat ini banyak memiliki fadhilah terutama dalam hal rezeki.

Berikut beberapa riwayat fadhilah dari surat Al-Waqi'ah

Sabda Rasulullah SAW:
"Surah al-Waqi'ah adalah surah kekayaan. Hendaklah kamu membacanya dan ajarkanlah ia kepada anak-anak kamu." (Riwayat Ibn Mardawaih daripada Anas: Kasyf al-Khafa').

"Ajarkanlah surah Al-Waqi'ah kepada isteri-isterimu. Kerana sesungguhnya ia adalah surat Kekayaan." (Hadits riwayat Ibnu Ady)

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi'ah pada malam Jum'at, ia akan dicintai oleh Allah, dicintai oleh manusia, tidak melihat kesengsaraan, kefakiran, kebutuhan, dan penyakit dunia; surat ini adalah bagian dari sahabat Amirul Mukimin (sa) yang bagi beliau memiliki keistimewaan yang tidak tertandingi oleh yang lain." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).

Imam Ja'far Ash-Shadiq (sa) berkata: "Barang siapa yang merindukan surga dan sifatnya, maka bacalah surat Al-Waqi'ah; dan barangsiapa yang ingin melihat sifat neraka, maka bacalah surat As-Sajadah." (Tsawabul A'mal, hlm 117).

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata: "Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi'ah sebelum tidur, ia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan wajahnya seperti bulan purnama." (Tsawabul A'mal, halaman 117).

Ubay bin Ka'b berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa yang membaca surat Al-Waqi'ah, ia akan dicatat tidak tergolong pada orang-orang yang lalai." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).

Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah, ia tidak akan tertimpa oleh kefakiran selamanya." (Tafsir Nur Ats-Tsaqalayn 5/203).

Imam Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan."

Ibnu Katsir didalam mengawali penafsirannya tentang surat Al-Waqi'ah mengatakan bahwa Abu Ishaq mengatakan dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata : Abu Bakar berkata, "Wahai Rasulullah saw tampak dirimu telah beruban. " Beliau bersabda, "Yang (membuatku) beruban adalah surat Huud, Al-Waqi'ah, Al-Mursalat
, An Naba', dan إذا الشمس كورت." Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan dia berkata : ia adalah hasan ghorib.

Beliau mengatakan bahwa Al Hafizh Ibnu 'Asakir didalam menerjemahkan Abdullah bin Mas'ud dengan sanadnya kepada Amr bin ar Robi' bin Thariq al Mishriy : as Surriy bin Yahya asy Syaibaniy bercerita kepada kami dari Syuja' dari Abu Zhobiyah berkata ketika Abdullah (bin Mas'ud) menderita sakit, ia dijenguk oleh Utsman bin 'Affan dan bertanya, "Apa yang kau rasakan?" Abdullah berkata, "Dosa-dosaku." Utsman bertanya, "Apa yang engkau inginkan?" Abdullah menjawab, "Rahmat Tuhanku." Utsman berkata, "Apakah aku datangkan dokter untukmu." Abdullah menjawab,"Dokter membuatku sakit." Utsman berkata, "Apakah aku datangkan kepadamu pemberian?" Abdullah menjawab,"Aku tidak membutuhkannya." Utsman berkata, "(Mungkin) untuk putri-putrimu sepeningalmu." Abdullah menjawab, "Apakah engkau mengkhawatirkan kemiskinan menimpa putri-putriku? Sesungguhnya aku telah memerintahkan putri-putriku membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam. Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya."

Lalu Ibnu 'Asakir mengatakan : begitulah dia mengatakan. Yang betul : dari Syuja', sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Wahab dari Surriy. Abdullah bin Wahab berkata bahwa as Surriy bin Yahya telah memberitahuku bahwa Syuja' telah bercerita kepadanya dari Abi Zhobiyah dari Abdullah bin Mas'ud dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,"Barangsiapa yang membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya." Dan Abu Zhobiyah pun tidak pernah meninggalkan dari membacanya.

Demikian pula Abu Ya'la meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim dari Muhammad bin Munib dari as Surriy bin Yahya dari Syuja' dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas'ud. Kemudian Ishaq bin Abi Israil dari Muhammad dari Munib al 'Adaniy dari as Surriy bin Yahya dari Abi Zhobiyah dari Ibnu Mas'ud bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa membaca surat Al-Waqi'ah setiap malam maka dirinya tidak akan ditimpa kemiskinan selama-lamanya.", didalam sanadnya tidak disebutkan Syuja'. Ibnu Mas'ud mengatakan,"Sungguh aku telah memerintahkan putriku membacanya setiap malam."

Ibnu 'Asakir juga meriwayatkan dari hadits Hajjaj bin Nashir dan Utsman bin al Yaman dari as Sirriy bin Yahya dari Syuja' dari Abu Fathimah berkata, "Abdullah mengalami sakit lalu Utsman bin 'Affan datang mengunjunginya dan disebutkan hadits panjang ini." Utsman bin al Yaman berkata, "Abu Fathimah adalah hamba sahaya dari Ali bin Abu Thalib." (Tafsir al Quranil Azhim juz VII hal 512 - 513)

Begitupula dengan hadits yang diriwayatkan oleh ad Dailamiy dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda, "Surat Al-Waqi'ah adalah surat kekayaan maka bacalah dan ajarkanlah ia kepada anak-anakmu."

Sahabat fillah, Banyak sekali riwayat-riwayat lain yang menjelaskan tentang fadhilah dan keberkahan dari surat Al-Waqiah ini. semoga dari beberapa hadits di atas bisa menambahkan keyakinan kita akan besar nya manfaat dari surat ini. 

Ayooo.... lebih rajin lagi membaca Al-Qur'an nya,,,, semangat selalu yaa...!!!
Semoga bisa bermanfaat buat sahabat fillah.... :-)

Jumat, 18 September 2015

KUFU' (kafa'ah) Dalam Pernikahan


Kufu' artinya; sama atau sepadan. Yang dimaksud disini ialah, kesepadanan antara calon suami dan istrinya baik dari status sosialnya, ilmunya, akhlaknya maupun hartanya. Persamaan kedudukan suami dan istri akan membawa kearah rumah tangga yang sejahtera, terhindar dari ketidak beruntungan, demikian gambaran yang di berikan oleh alhi fiqih tentang kafa'ah. Zaman sekarang sih orang lebih banyak yang mengutamakan harta dari pada ilmu, tanpa mereka sadari bahwa ilmu jauh lebih penting ketimbang harta yang berlimpah karena ilmu adalah penuntun amalan kita. Harta mereka jadikan ukuran status sosial, padahal itu sangat salah.

Lantas bagaimanakah hukum kafa'ah itu menurut Islam? Bagaimana prakteknya? Yuk sahabat fillah kita bahas lebih dalam masalah Kafa'ah ini.

Islam adalah agama fitrah, yang condong kepada kebenaran. Islam tidak membuat aturan tentang kafa'ah tetapi manusialah yang menetapkannya, karena itu lah mereka berbeda pendapat tentang hukum kafa'ah dan pelaksanaannya. Bahkan sampai ada para ulama yang merobek-robek aturan ini, baik disukai atau tidak, terutama sakali waktu-waktu seperti sekarang ini banyak sekali timbul pertentangan di dalam nya.
Firman Allah; "Sekiranya Al-Qur'an itu bukan dari Allah pastilah mereka mendapatkan banyak pertentangan di dalam nya". (QS. An Nisa' : 82)

Ibnu Hazm pemuka mazhab Zhahiriyah yang dikenal sebagai mujtahid mutlak, tidak mengakui adanya kafa'ah dalam pernikahan. Ia berkata; "Setiap muslim selama tidak melakukan zina boleh menikah dengan perempuan muslimah, siapapun orang nya asal bukan perempuan pezina."
Karena semua orang Islam adalah bersaudara, berdasarkan dengan firman Allah; "Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara." (QS. Al Hujarat : 10)
Dan firman_Nya 'Azza Wa Jalla pada ayat lain yang ditujukan kepada seluruh kaum muslimin; "Maka kawinilah wanita-wanita yang menarik hatimu." (QS. An Nisa' : 3)


Segolongan Ulama berpendapat bahwa kafa'ah itu patut diperhatikan, hanya saja disini yang menjadi ukuran ialah keteguhan beragama (istiqomah) dan akhlak nya. Bukan dari nasab (keturunan) nya, kekayaan, fisik ataupun sesuatu yang lain. Jadi bagi laki-laki yang shalih, sekalipun bukan dari keturunan yang terpandang ia boleh menikah dengan wanita muslimah mana pun. Dan laki-laki dengan pekerjaan yang di pandang rendah sekalipun, boleh beristri dengan wanita muslimah yang punya kedudukan tinggi. Laki-laki yang tidak punya pengaruh boleh menikah dengan wanita muslimah yang berpengaruh lagi tersohor. Tentunya asalkan dia seorang muslim dan pandai memelihara diri dari perbuatan keji, yang tetap berpegang teguh pada Diinnullah. Akan tetapi apabila laki-laki itu tidak teguh dalam menunaikan agamanya, maka tidak pantas lah ia menikahi seorang wanita yang shalihah.

Islam telah mengakui, bahwa manusia pada asalnya dan nilai kemanusiaannya adalah sama. Dan bahwa tidak seorang pun yang lebih mulia dari pada yang lain, kecuali dengan tingkat ketaqwaannya kepada Allah 'Azza Wa jalla, dengan menunaikan kewajibannya kepada Allah dan kewajibannya kepada manusia.
Firman Allah; "Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu" (QS. Al hujarat : 13)

 At-Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad hasan dari Abu Hatim, bahwa Rasulullah saw. bersabda; "Apabila datang kepadamu sekalian orang yang kamu sukai agamanya dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia. Kalau itu tidak kamu lakukan, maka akan menimbulkan fitnah dan kerusakan besar di bumi". para sahabat bertanya: "Ya Rasul Allah, kalau terdapat padanya.....(cacat)?". Rasulullah saw menjawab: "Apabila datang kepadamu orang yang kamu sukai agamanya dan akhlaknya, maka kawinkanlah dia." Demikian kata Rasulullah saw sampai tiga kali."

Sahabat Fillah, arah pembicaraan dalam hadits di atas adalah di tujukan kepada para wali atau siapa saja yang ada dalam perwalian seorang wanita.  Hendaknya agar mereka mengawinkan  anak-anak perempuan  mereka, dengan seorang laki-laki muslim yang telah datang melamar dan dipercayai bahwa ia seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia. Karena jika hal itu tidak dilakukan, yakni pelamar yang sebaik itu di tolak, bahkan malah lebih suka kepada orang yang berpangkat, bernasab, dan berharta. Maka yang akan terjadi malah akan timbul fitnah, huru-hara dan kerusakan yang tidak berkesudahan di dunia ini.

Sahabat Fillah, maka jelaslah bahwa prinsip dasar dalam memilih jodoh yang di kehendaki Islam ialah istiqomah beragama dan berakhlak mulia. Bahwa kemegahan, harta, nasab, fisik dan lain sebagainya semua itu tidak diakui Islam. Karena dalam pandangan Islam semua manusia itu adalah sama, kelebihan antara seseorang dengan yang lainnya hanyalah didasarkan pada ketaqwaannya kepada Allah.

Sahabat fillah, jika kriteria itu yang sudah kita pegang dalam memilih calon pendamping, maka yakinlah kenikmatan dunia yang lainnya sudah pasti kita dapatkan di dalam berumah tangga, yakni berupa rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Warrohmah. Semoga kita termasuk di dalam golongan hamba_Nya yang bertaqwa dan berakhlak mulia, dan diberikan jodoh yang terbaik.
Aamiin Ya robbal 'Alamiin.

Selasa, 01 September 2015

"FRIENDSHIP LOVE IT" CARA ASYIK MEMBINA PERSAHABATAN DENGAN BAIK

"Apabila kalian memiliki teman yang membantumu dalam ketaatan, maka genggam erat tangannya. Karena mendapatkan seorang sahabat itu sulit sedangkan berpisah darinya itu mudah." (Imam Syafi'i)

Dzunnun  Al-Misri berkata, "Bersahabatlah dengan orang yang dengan melihatnya, engkau mengingat Allah. Wibawanya ada dalam hatimu, ucapannya menambah amalmu, amalnya menambah zuhudmu, dan ketika engkau berdosa maka ia menasehatimu dengan perbuatannya, sebelum menasehatimu dengan ucapannya." (Shifah al-Shafwan 2/445)





Setiap kita tentunya memiliki sahabat, berbagai kesan dan makna menghias lembaran ceritanya, mereka ada untuk mewarnai hidup kita. Alangkah indahnya dunia jika kita bisa memiliki sahabat untuk berbagi suka duka bersama tanpa memandang suku, ras, pangkat, jabatan atau hal-hal yang bersifat fisik semata. Karena perbedaan pemikiran dan pemahaman bukanlah penghalang dalam sebuah ikatan persahabatan, justru dengan perbedaan akan saling melengkapi satu sama lain, laksana bunga dalam satu taman, semakin berfariasi akan semakin indah dilihat. Apalagi persahabatan yang dilandaskan karena Allah,, duh betapa indah nya jalinan ukhuwah islamiyah tersebut.
Sahabat fillah,, nih ada beberapa tips bersahabat yang asyik,, yuk disimak ya.....;
   
 IKHLAS MENJADI TEMPAT SAMPAH

Salah satu fungsi sahabat adalah tempat berbagi. Sudah sewajarnya saat sahabat kita sedang memiliki masalah, kitalah tempat keluh kesahnya, tempat melepaskan tangisnya, tempat curahan hati untuk meringankan bebannya, Jangan pernah mencela saat sahabat kita ada masalah. Beri dia kesempatan tuk menceritakan segala hal yang ingin diceritakannya, pastikan kita adalah orang yang di percaya. Saat sahabat kita mau berbagi dengan kita, itu tandanya dia telah menaruh kepercayaan kepada kita, maka menjadi kewajiban kita tuk menjaga kepercayaan itu. Ada beberapa hal yg harus diperhatikan agar sahabat kita bisa nyaman menjadikan kita tempat berbagi, diantaranya;
  •  Jangan pernah membiarkan sahabat kita terlena dengan masalahnya kemudian terjerumus ke dalam kesedihan yang berlarut-larut. Oleh sebab itu kita yang seharusnya bisa berfikir lebih rasional daripada emosional. 
  • Jangan pernah mengambil sikap atau pun perbuatan secara tergesa-gesa. Berfikirlah dengan kepala dingin dan tenang. Dalam ketenangan ada keselamatan dan dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan.
  • Jangan berbuat tidak adil dengan membenarkan semua hal yang kita dengar, sampai diketahui kebenaran yang sesungguhnya.
  • Saat sahabat kita sedang di puncak emosi, kita jangan menjadi bumbu penyedap kemudian ikut-ikutan menggunjing,, karena itu dosa..!
  • Memberi nasehat kepada sahabat kita agar berserah diri kepada Allah. Berilah nasehat yang dapat mengurangi kesedihan, kemarahan, dan ketakutannya.
  • Harus netral, jangan pernah memihak. Jangan karena dia sahabat kita kemudian kita jadi berat sebelah, dan membenarkan semua tindakannya.
  • Berikan waktu atau kesempatan yang banyak untuk sahabat kita, dengan membiarkannya menyampaikan semua yang mengganjal dan membebani hati nya. Jangan menjadi orang yang terlalu banyak bicara, tapi jadilah orang yang banyak mendengar.

 MENJADI PENDENGAR YANG BAIK

Berkaca pada diri sendiri saat kita sedang ada masalah, bukankah kita juga perlu seseorang tuk mendengarkan semua keluhan kita. Allah menganugerahkan kepada kita dua telinga dan satu mulut, itu artinya kita harus lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Ibnu Muqaqa’ dalam A-adabush Shaghir wal Adabur Kabir, berpesan; “Belajarlah menjadi pendengar yang baik sebagaimana engkau belajar menjadi pembicara yang baik. Salah satu bukti mendengarkan dengan baik ialah memberi waktu kepada pembicara untuk menyelesaikan pembicaraannya, tidak sering beralih untuk menjawab, menghadapkan wajah dan pandangan kepada pembicara, serta menyadari apa yang diucapkan.” Keterampilan mendengar yang baik akan membuat seseorang yang mengajak kita berbicara lebih menghargai kita. 

 JUJUR

Apakah kamu pernah dibohongi,,?? Bagaimana rasanya, sakit bukan? Apalagi yang membohongi itu sahabat kita sendiri, sudah pasti sakitnya susah tuk dihilangkan. Di dalam menjalin persahabatan kejujuran sangat penting karena sahabat yang baik adalah seorang sahabat yang jujur, suka berterus terang dan tidak menyembunyikan sesuatu dari kita. bicaralah dengan jujur meskipun itu menyakitkan, ketika kita berfikir jujur berarti kita menghargai hak-hak dan kebutuhan diri sendiri juga. Umar bin Khathab ra., berkata; "Bersahabatlah dengan sahabat yang jujur, sebab engkau akan berada di sisi mereka. Mereka hiasan ketika dalam kesenangan dan menjadi bekal saat ada bencana. Dudukkan urusan temanmu sesuai dengan kebaikannya sampai dia membawakan untukmu sesuatu yang engkau benci darinya. Hindarilah musuhmu, serta berhati-hatilah terhadap temanmu kecuali yang terpercaya. Dan tidak ada sahabat yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah. Janganlah engkau bergaul dengan orang durjana, dikhawatirkan engkau belajar pada kedurjanaannya, dan janganlah engkau membuka rahasiamu kepada nya. Mintalah nasihat dalam urusanmu kepada mereka yang sangat takut kepada Allah."

TULUS

Tulus berarti sungguh-sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci), jujur, tidak pura-pura dan ikhlas dalam menerima persahabatan apa adanya. Sahabat yang tulus adalah cermin kebaikan dan keburukan kita, sahabat yang hanya memperlihatkan kebaikan kita saja adalah sahabat yang palsu dan pembohong, sebaliknya seorang sahabat yang tulus akan selalu mengingatkan akan keburukan-keburukan kita. Sahabat yang tulus mau menerima kita dengan segenap kelebihan dan kekurangan, apa adanya bukan karena ada apanya. Ia memberi tanpa pamrih, tak menghaap imbalan apalagi pujian, ia ikhlas menolong kapan saja kita butuhkan. Tulus merupakan cermin sikap adanya kasih sayang, layaknya seorang hamba yang tulus beribadah demi menggapai Ridha Ilahi tanpa menginginkan pujian makhluk lain atau hal-hal lain yang bersifat dunia. Sebagaimana pesan Rasulullah, "Peganglah oleh kalian saudara-saudara yang tulus, karena sesungguhnya mereka adalah perhiasan saat senang dan pelindung saat susah."

PAHAMI KARAKTERNYA 

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna, tetapi setiap orang punya kelebihan dan kekurangan itu juga mutlak adanya. Manusia memiliki karakter yang berbeda-beda, apa yang kita pikirkan tentu tidak sama dengan yang orag lain pikirkan. Pergaulan dan lingkungan kita sehari-hari turut membentuk karakteristik kepribadian kita. Tidak mudah untuk mengerti dan memahami karakter seseorang, dibutuhkan rasa toleransi yang tinggi untuk itu. contohnya nih, sahabat kita adalah orang yang sangat perasa atau sensitif maka kita harus berbicara dengan cara yang halus agar dia tidak mudah tersinggung. Seorang sahabat yang baik harus bisa mengerti dan memahami bagaimana karakter dan kebiasaan sahabatnya, jika kita menginginkan persahabatan itu langgeng kita harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter sahabat kita. Menyesuaikan diri bukan berarti kita ikut-ikutan dengan sifat buruk nya juga, tapi kita harus fleksibel dalam membawa diri, harus bisa memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk.

JADILAH 'SUMUR' YANG DALAM 

menjadi sumur yang dalam artinya kita mampu menyimpan rahasia sahabat kita serapat-rapatnya, karena jika sudah dimaksud untuk di rahasiakan berarti itu bukan untuk konsumsi publik sehingga menjadi rahasia umum, apalagi jika itu menyangkut harga diri atau mungkin adalah aib sahabat kita. Jangan sampe cap 'musuh dalam selimut' akan menempel ke kita selamanya, ngak keren banget kan predikatnya,,! karena itulah jika kita ingin di hargai sebagai seorang sahabat yang baik, ya harus pandai menyimpan rahasia sahabat kita. "Rahasia adalah tawananmu, jika kau bicarakan maka engkau sendiri yang akan menjadi tawanannya." (Ali bin Abi Thalib ra.)

SALING MEMBERI NASIHAT DAN MOTIVASI

Persahabatan akan lebih bermakna ketika di dalamnya di hiasi oleh ukhuwah dengan pondasi aqidah yang menebar nilai kearifan dan kasih sayang. seorang sahabat yang baik akan selalu mengingatkan kita untuk selalu teguh melaksanakan perintah Allah dan selalu istiqomah di jalan_Nya. Rasulullah pernah bersabda,  "Jika seseorang dari kalian memiliki nasihat yang perlu untuk di sampaikan kepada saudaranya, hendaklah dia menyampaikannya." (HR. Ibnu 'Adi)
Sahabat ialah seseorang yang tidak selalu membenarkan kita, karena dia akan jujur jika kita berbuat kesalahan dan dia tidak akan menyembunyikan kekeliruan kita. Dia akan memberikan kritik yang baik bersifat membangun bukan malah melemahkan orang yang dikritik, itulah hakikat dari nasihat. Nasihat menasihati adalah kewajiban seorang muslim dan itu merupakan perwujudan dari Amar Ma'ruf Nahi Mungkar. Mari kita membiasakan diri untuk saling terbuka menerima kritik dan nasihat demi perbaikan diri. Seorang Imam Ibnu Hazm pernah berpesan, "Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasihat, baik yang diberi nasihat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberikan nasihat maka nasihatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung. Kecuali apabila orang yang dinasihati tidak memahami isyarat mu, maka harus secara terus terang,...."
Sahabat yang baik juga senantiasa memberikan motivasi kepada kita, baik itu dikala sedang di rundung masalah maupun dalam keadaan bergembira. Dia akan memberikan semangat terbaiknya untuk bekal langkah-langkah kita ke depannya, semangat untuk maju dan berprestasi serta mendukung ke arah yang positif. Maka hendaklah kita selalu menjadi sahabat yang suportif,,!

HORMATI PILIHAN HIDUPNYA

Meskipun kita tidak selalu setuju dengan pilihan yang diambil oleh sahabat kita, bukan berarti kita boleh mengintervensi hidupnya. Tugas kita hanyalah memberi masukan, semua keputusan tetap berada ditangan nya. Jangan pernah mendominasinya ketika ia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mengharuskannya mengambil keputusan untuk hidupnya. Walau bersahabat, tetapi kalian adalah dua individu dengan kepribadian yang berbeda, sikap yang dominan malah akan menimbulkan masalah. Jika yang satu merasa dikuasai yang lain, maka akan terjadi kesenjangan seperti atasan dan bawahan jadinya. Bersahabat itu semestinya sama kedudukannya, tidak boleh ada doktrin siapa harus mengikuti kehendak siapa, semua berhak menentukan jalannya sendiri-sendiri.

MENEPATI JANJI

Menepati janji merupakan salah satu sifat pribadi yang mulia, jika kita sudah berjanji maka wajib hukumnya untuk menepati.
Baik lisan ataupun tulisan, yang nama nya janji adalah hutang.  Jika kita melanggar janji  maka kita dikategorikan  sebagai orang munafik. Sebagaimana Hadits Rasulullah, “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yakni apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji  ia mengingkari, dan apabila dipercaya ia mengkhianati.” (HR. Bukhari)  Usahakanlah untuk selalu menepati janji, jka kita merasa tidak mampu atau khawatir tidak bisa menepatinya, mending jang berjanji.  Karena kemampuan kita untuk menepati janji berarti menunjukkan kualitas pribadi kita, rasa kepercayaan dipertaruhkan di dalamnya. Selain itu pun janji akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah kelak, karena membayar hutang memiliki kedudukan yang kuat di sisi Allah.

JAGA KOMUNIKASI 
 

Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia, dari sejak lahir dan selama proses kehidupannya, manusia akan selalu terlibat dengan tindakan-tindakan komunikasi. Tindakan komunikasi dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan manusia, mulai dari kehidupan yang bersifat individual, di antara dua orang ataupun lebih (keluarga, kelompok atau organisasi). Komunikasi dalam persahabatan justru sangat di perlukan untuk menjaga kelangsungan jalinan persahabatan itu sendiri. Tanpa ada komunikasi yang baik, mustahil sebuah persahabatan akan bertahan lama. Dalam komunikasi, kita harus menghormati antar personal agar tercipta suatu hubungan yang harmonis. Nah,, sekarang gimana ya kira-kira cara membangun pola komunikasi yang baik dengan sahabat..?  Sahabat fillah,,, ini dia kiat-kiatnya;
  • Pancing dan dorong sahabatmu untuk membicarakan tentang dirinya, karena setiap orang pasti punya kisah hidup dan keunikan sendiri. Berilah tanggapan dan bersikaplah antusias dalam mendengarnya.  
  • Hargailah segala hal yang menjadi kepentingan dan prioritasnya, serta hormati argumen dan keputusannya.
  • Jangan mengatakan dengan terang-terangan kalau dia salah, tapi carilah cara yang cerdas untuk menunjukkan bahwa dia salah tanpa menyinggung perasaannya.
  • Sesekali kita harus membiarkan sahabat kita mengungguli kita dalam suatu hal, walaupun mungkin sebenarnya kita bisa unggul dalam hal itu. Berilah dia penghargaan yang  membuatnya makin bersemangat untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
  • Tunjukkan kalau kamu peduli dengannya, misalkan dengan memberi kejutan di hari istimewanya. Kepedulian selalu dirindukan dalam sebuah persahabatan.
  • Selalu perlakukan dia dengan penuh rasa hormat, saat kita bisa bersikap seperti itu pasti sahabat kita juga akan berlaku demikian terhadap kita.
  • Selalu beri dorongan padanya untuk melakukan segala sesuatunya lebih baik dan lebih baik lagi.
  • Jangan coba meluruskan kesalahannya secara terang-terangan di muka umum, karena hal itu akan membuatnya malu dan tertekan. Sebaliknya beri nasihat padanya saat kalian sedang berdua.
  • Selalu hargai waktu-waktunya, usahakan untuk tidak mengingkari janji dan tidak menyia-nyiakan waktu nya.
  • Keep Contact. Persahabatan tidak mengenal jarak dan waktu, meski tidak bisa selalu bertemu tanyakan kabarnya melalui telpon, sms, chating atau bentuk komunikasi lainnya. Di zaman yang serba canggih ini, komunikasi bisa melalui berbagai media. Karena itu manfaatkanlah media itu sebaik-baiknya dan tetap menjaga ukhuwah antar sahabat.
  • Jangan lupa untuk selalu menebarkan senyum, karena cara berkomunikasi yang baik dan termudah adalah dengan tersenyum.